Sajak cinta pamungkas terluka juga
Kering kata dari setiap alur barisnya
Izrail berjinjit-jinjit menghampiri makna
Dan sebentar lagi cinta akan melihat mayatnya di keranda
Oh... betapa malang sang pecinta yang menyembah fisiknya
Lupa sedang menari diatas mimpi yang tak menyentuh ruang
Terus termangu menunggu bintang utara bergerak
Sementara waktu terus melebarkan derita
Aku nanar mentap pohon ku mengering
Kulit batangnya terkelupas seperti kudis
Ranting-rantingnya kurus nestapa tak benadi
Daun-daunnya coklat hangus berguguran mati
Ada helaan nafas mengharap asa
Ketika kehidupan bertumpu pada satu nama
Laksana lubang hitam untuk via Lactea
Menenggelamkan dan melenyapkan
Satu lembar daun menggelantung setengah nafas
Sisi-sisinya mulai ditinggalkan klorofil
Ruas-ruasnya mulai mencoklat
Tapi masih kudapati barisan kata diatas pundaknya, sebuah asa
Kusadari kekuatan harapan
Itu yang membuatku berhenti untuk waktu yang tidak sebentar
Sebuah kalimat yang meminta ku tinggal sebentar lagi saja
Sesuatu yang berteriak pada dunia bahwa akar-akarnya masih menancap tajam
Sebuah kalimat di atas daun terakhir
Bahwa cinta tidak selamanya bersama
Bahwa cinta mungkin berakhir tragis
Bahwa cinta bukan mimpi tapi nyata
Tapi cinta yang ini menunggu sampai nafas terakhir pergi
Sabtu, 12 Mei 2012
Senin, 12 September 2011
Catatan Rindu yang gamang
Masih terapung-apung
bersama biduk
Di atas danau
yang juga tidak pernah jadi milikku itu
Mencari tepi masa dimana diriku bisa bertemu harapan
Tapi tak kunjung
tiba bayang maya bulan kelabu memudar
Kita bersama
dalam ruang sempit tak bersisi
Dipisahkan mimpi
yang tak pernah punya kesamaan
Sesekali
kuketuk dari sisi lain partisi ini
Suaranya terlalu
naïf hingga tampak menjijikkan
Kata berjubah pembelaan sang pengemis
Aku terkubur
dalam anekdot diatas panggung pementasan ketoprak
Ada bulir
peluh membasahi kening
Habis sudah energi
terhisap ruang temaram itu
Sedang lagu terus
mengalun datar mengantar kau hilang
Maka lelah
mengusikku untuk terasing dari kewarasan yang utuh
Kucoba menyelamatkan
diri pada jiwa yang lain
Memberi peran sahabat dalam elegi yang sedang didiktekan ini
Tapi ini
dunia nyata yang dimana Tuhan berarti "disini tidak ada yang gratis"
Maka kemiskinan
membunuhku untuk kesekiankali
Dimana kau
kekasihku dulu?
Yang menggenggam
telapak kanan ku dengan penuh rindu
Yang membiarkan
ku membelai mu dengan pujian-pujian seluas langit biru
Pergikah kau
menghilang dengan sayap ku yang ku berikan untuk mu dulu
Lepas dari
sangkar hati yang akhirnya juga diriku
Tapi seperti
jiwaku, kemana pun dirimu kau tetap yang terkasih untukku
Dimanakah bintang utara kini?
Masihkan yang kutitipkan mempunyai sinar
Masihkan yang kutitipkan mempunyai sinar
Karena tampak semakin
meredup dari bawah sini
Aku akan
terus menunggu jawaban itu datang
Dan sampai ketika
petang pun menghampiri
Dan atau ketika
itu tak ada lagi senandung cinta terdengar dari utara
Aku akan
terus diatas biduk itu untuk terapung dibawa naungan pohon ini
Dengan cintaku
yang tak terkikis masa
Dengan penantianku
yang tak kunjung usai
Rabu, 06 Juli 2011
Suara Sumbang si Pengganggu
Aku sepertinya sudah membuatmu sesak
Gelisah dengan keluhkesah ku
Gerah oleh bayang-bayang ku
Garang pada keras kepala ku
Atau kau sudah muak pada kelemahan yang ada
Aku meminta maaf,
Dalam belajar diriku kudapati sekarang
Mencoba menghapus dirimu yang tidak kunjung tiba
Terseok-seok antara keinginan dan keadaan
Mungkin itu memang memuakkan tapi aku terus saja bernafas
Malam menyimpan rindu, siang mengejek keterasingan
Dimana akan kutempatkan diriku yang usang
Dengan getaran pada kehausan akan lembut sang bintang
Atau kerinduan untuk menjadi sahabat matahari yang nyalang
Aku tidak tahu apa kah aku juga masih mahluk dari yang agung
Kumohon biarkan orkestra sumbang ini terus mengalun
Bunyi bisik lirih setengah harapan
Tak usah kau memberi banyak tanggapan
Cukup biarkan aku menggerutu dikursi penonton
Karena mungkin sebentar lagi petang
Karena mungkin asa pun akan berpamitan
Saat itu tidak ada lagi bisik si pengganggu
Saat itu kita tenang dari ditempat kita terakhir beradu
Senin, 04 Juli 2011
Bereng-Bereng ( DragonFly)
Emptiness is killing me. Hits my face like the moon crashes the sun…
( Farida Susanty, Dan Hujan Pun Berhenti).
Rabu
Dulu, ketika ada kupu-kupu yang masuk kedalam rumah pada malam hari maka nenek atau tanteku akan bilang kalau dalam beberapa hari ini akan ada tamu yang datang, kedatangan mahluk bersayap itu menjadi penandanya. Aku sebagai anak kecil waktu itu tentu saja percaya, sepeti mitos-mitos lainnya, maka setiap malam ketika ada kupu-kupu terbang bingung di sekeliling lampu di atas plafon aku akan menebak siapa lagi yang akan datang dalam beberapa hari ini. Bahkan ketika aku berharap seseorang untuk datang , maka ketika kupu-kupu atau serangga lainnya berkunjung pada malam hari dan berputar-putar di langit-langit ruangan, hal itu akan menambah lega harapan ku itu. Seorang anak kecil memang kadang terlalu lemah untuk tidak bersandar pada hal-hal yang absurd, demi menyenangkan mimpi-mimpinya.
Dan malam ini, ketika aku sedang menikmati malam-malam menjadi pengangguran dengan menonton film di komputer, dengan keadaan ruangan seperti biasa, keadaan gelap, tiba-tiba ketenangan itu dibuyarkan dengan kehadiran seekor capung yang bergerak-gerak liar didepan monitor seperti seorang suku astek yang sedang kerasukan didepan pemujaan pada dewa matahari, iya, satu-satunya cahaya terang diruangan itu memang hanya monitor ini dan capung itu terus menciuminya seakan mau masuk kedalamnya. Aku tambah tenggelam dalam diam ketika hal itu terjadi, nalar rasional ku yang sudah membuang hal-hal yang beraroma mitos mengatakan kalau capung ini tidak sengaja tersesat kedalam kamar ku ini dan itu hal yang naluriah kalau serangga sangat tertarik pada sumber cahaya. Tapi ada rasa yang seakan terhibur dengan kedatangan mahluk ini, sebuah rasa yang lalu memebesarkan sebuah harapan, “Hmmmm….siapa yang akan datang? Apa untukku, karena serangga ini masuk kekamar ku?” rasa itu terus bertanya. Iya, rasa itu adalah kesepian.
Sabtu
Untuk beberapa detik, tubuh ini membeku, terasa keram mulai dari ujung kaki sampai ubun-ubun bahkan diyun-ayun kan oleh bentor (becak motor) ini, bibir ini mengatup sedang mata terus terbuka bergetar menatapi pemandangan yang tidak lebih sepuluh meter itu dan mendekat , “ Kaukah itu?” batin ku bertanya yakin karena saya tau kalau mata normal itu bisa meliat jelas lebih jauh dari sepuluh meter dan saya yakin mata saya masih normal. Sampai akhirnya lebih dekat dan saya tau kalau itu bukan kau, kanya mirip dari kejauhan saja, mirip gaya berpakaianannya, mirip warna yang sering kau pakai, postur tubuhnya juga hampir sama seperti kalau kau duduk, wajahnya juga putih dengan mata yang agak lebar, sayang itu bukan kau. Dan ketika semua jelas, paru-paruku pun akhirnya mendapat isin untuk bekerja lagi membuat nafas yang teratur. Aku berbalik pada adikku yang duduk disamping ku, “ Saya kira kakak…” dia juga ternyata tertipu, “ Iya saya juga” kataku sembari mengusap setitik keringat yang sempat mengalir dari tubuh yang dingin ini.
Hal yang aneh memang, kenapa saya harus kaget kalau pun benar itu kau yang sedang menuju kearah rumah ku. Ini bukan pertama kali saya bertemu kau setelah kita tidak bersama lagi. Saya masih bisa melihat wajah mu atau mengetahui beberapa aktifitas dan suasana hatimu melalui jejaring sosial. Bahkan beberapa minggu lalu saya bahkan menjenguk kau dirumah sakit. Lalu apa yang harus saya kagetkan kan? Hufftttt….. Saya tahu kalau pertemuan dengan kau itu mungkin dibeberapa momen adalah hal yang biasa tampakannya, tapi sebuah kesadaran bahwa suatu saat ketika kau datang lagi kerumah ini, pasti dengan membawa suatu hal yang besar meski aku tidak tau itu apa. Dan sampai sekarang saya belum yakin kalau saya siap menghadapi itu. Itulah yang membuat tubuh ini beku, kebingungan dalam kegembiraan VS ketakutan.
You’re so hypnotizing, Could you be the devi, Could you be an angel
( Katy Perry, E.T. )
Manusia harusnya berbahagia ketika bertemu dengan yang dia mimpikan dan usahakan. Manusia selalu mau untuk menggapai yang diinginkannya. Tapi saya sendiri mulai tidak yakin dengan pendapat itu. Hal yang baik dan menggembirakan selalu pergi dan sangat cepat sedangkan hal yang yang menyakitkan selalu terasa lama untuk terhapus. Kita bisa bertemu dengan apa yang kita ingin kan, orang-orang atau hal lain, lalu kita kan bergembira dengannya. Tertawa dan menangis, asal bersamanya tidaklah mengapa, kita akan mencurahkan pikiran dan segala usaha kita untuk terus hidup dengan kegembiraan itu, sampai waktu tidak menjadi batasan lagi, dan kita tidak lagi merasakan waktu itu yang terus berjalan. Tapi ketika orang itu atau hal itu pergi maka kita akan terjerembab mati, perhatian kita hanya untuk membunuh waktu dan agar waktu itu cepat berjalan untuk segera bertemu ujung semuanya dan menghentikan penderitaan itu. Meskipun akhirnya waktu berjalan lebih lambat.
Sekarang duniaku kupersempit. Duniaku sekarang terdiri dari seorang ibu, seorang kakak perempuan, seorang adik perempuan, seorang tante, seorang kemenakan laki-laki, seorang kemenakan perempuan, beberapa instrumen untuk melengkapi fenomena yang datang lau pergi silih berganti dan sebuah cerita yang digantung dilangit sana. Dan seperti ketika melihat capung itu berkunjung kekamarku pada malam hari, akan ku tanggapi semua harapan tidak dengan hanya sebuah harapan yang utopia lagi meski tetap menikmatinya, karena hidup yang ada kini seperti bibir pantai yang menerima datang dan perginya ombak, menerima apa yang dibawa oleh buih (entah dibawa pergi kembali atau disimpan saja), kedinginan pada malam hari dan kepanasan pada siang bolong, tapi yang pasti selalu indah pada pagi dan sore hari. Itulah setitik harapan yang tertinggal yaitu titik di ujung kiri dan kanan bibir ketika tersenyum. Senyum yang mengantarkan kita untuk tetap merasakan hidup meski dunia sudah meninggalkan kita karena sudah muak dengan keluhan atas penderitaan yang kita buat sendiri. Iya, senyum itu juga bisa diperuntukkan untuk menghibur diri sendiri.
Lalu seekor capung terbang bebas meninggalkan tanda-tanda yang dibawanya, dan keresahan tergambar gamang dalam coretan ini.
Tetap tersenyum : )
Sabtu, 02 Juli 2011
CANDU lagi ( bukan lanjutan )
Tok!!...Tok!!... “Assalamu alaikum kak”
“.......”
“Mengganggu yah?”
“huffttt.....”
“.......”
“Masuk”
“Hmmmm...terima kasih”
“Uhuk..hmmhmmm.....ada apa?”
“M...ee...mmm......kak sebelumnya maaf kalo saya lancang”
“......”
“Huffttt...saya yakin kakak sudah tau berita itu, tapi saya pikir baiknya saya yang memberitahu sendiri”
“......”
“Kak. Saya akan menikah, kakak tahu dengan siapa kan? Maaf! Sekali lagi maaf”
“M.......”
“Sekalian saya bawakan undangannya untuk kakak”
“Huffft..... Apa yang saya bilang beberapa tahun lalu belum jelas?”
“Mmmmm....Tapi...”
“Jangan ada tetapi, sudah saya bilang jangan undang saya..”
“Huffttt.... Saya mau kakak hadir, karena biar bagai mana saya tidak mau memutus hubungan persaudaraan senior junior”
“Itu tidak akan luntur, saya pikir kau mengerti saya dan alasan saya tidak perlu hadir dipesta itu”
“Iya saya mengerti, kak saya minta maaf sebesar-besarnya”
“Selalu saya bilang kalau saya sudah memaafkan kau sebelum kau melakukan kesalahan itu. Jadi jangan khawatir”
“Mmmmm”
“Tetap tersenyum”
“Hee.... mmm kapan kakak menyusul?”
“Menyusul apa?”
“Heeeee menyusul mencari calon dan menikah? Hehehe maaf”
“......”
“Kak...maaf, Cuma bertanya. Kan itu baik. Menikah itu menyempurnakan ibadah”
“Kalau dia menyempurnakan ibadah pasti saya tidak diposisikan begini”
“..... Saya salah kak atas semua ini”
“Bukan kau atau saya, tapi keadaan yang membuat semua menjadi sulit”
“Kenapa sulit?”
“Iya sulit sekali”
“Iya, Sulitnya kenapa?”
“Hufftttt... Kau datang pada saat saya sudah belasan tahun tidak mempunyai pasangan hati, saya sudah terbiasa kesepian saat itu. Tapi kau datang dan saya membiarkan kau menghancurkan pertahanan itu”
“..... Kak”
“ Celakanya saat saya mulai nyaman dengan kau, kita harus berpisah. Dan ternyata begitu lama saya menyendiri itu tidak seberat beberapa bulan saya harus melupakan mu. Tidak sangka semua proses itu membuat semakin parah. Sekarang saya takut”
“Takut?”
“Iya saya takut. Saya mungkin bisa menghapus kau dari persaan ku. Tapi tidak sengaja saya juga menanam ketakutan, paranoid”
“Ketakutan macam apa kak?”
“Saya berfikir bahwa kau saja yang sudah sangat mengenal saya tanpa tersisa rahasia dari saya dapat melakukan itu pada saya, sadis menurut saya. Apa lagi orang yang belum saya kenal”
“Kak! tidak boleh menjustifikasi seperti itu. Kakak tidak akan tau kalau tidak mencoba membuka diri, seperti waktu terhadap saya, kakak tidak mungkin mengenal orang lain tanpa membiarkannya masuk dan memperkenalkan diri”
“Entahlah, tapi saya terlanjur takut dengan kaum mu”
“Kak coba lagi...”
“Huffftttttt...... Sudahlah, biar saya yang menentukan itu semua. Kamu pulang saja”
“Hufftttt....... Saya hanya mau yang terbaik tuk kakak. Saya yakin itu ada. Sekali lagi maaf kak. Saya pamit”
“Iya, bawa juga undangan mu, maaf saya tidak bisa hadir. Harap maklum”
“Huffttt... Iya saya maklum. Assalmu Alaikum”
“.........”
***
“Dra, jangan jauh jauh yah! Awas hilang sekitar sini saja liatnya. Ibu mau ketempat jual alat dapur dulu”
“Siap bos, Cuma ditempat jual kamera kok”
“Daimana?”
“Itu, disana yang ruangannya biru”
“Yang mana?”
“Itu yang kelihatan dari sini loh. Yang ada orang berdiri itu loh”
“Yang ma.... Astaga itu...”
“Itu siapa bu? Eh...tunggu bu, main tinggalin aja”
-------------------
“Kak...”
“Eh... Kamu, Sama siapa?”
“Ini sama anak saya. Kenalkan Jendra. Dra ini kenalkan kakak senior ibu dikampus dulu”
“........”
“Sama siapa kak?”
“Hehehe...sendiri”
“Oooo istrinya mana”
“Hehe.... tahun depan baru 11 tahun dari hari itu. Jadi, seperti yang dijanjikan, tahun depan mungkin saya akan mengenalkan kalau saya sudah ketemu yang kau tanyakan”
“........”
“Saya duluan yah. Eh anak kamu gagah”
“Huffttt... Iya, makasih kak”
CANDU*
“ Kau terlalu jauh meninggalkan umurmu ”
“ Ya! Mungkin benar. Tapi apa kau sadar kalau kau ternyata telah jauh ditinggalkan umurmu ”
“ Aku menunggu! Sampai aku lelah “lanjutnya satelah menunduk berapa lama.
“ Aku tidak melihat itu “
“ Memang kau melihat?“
“ Iya aku melihat! Aku melihat motor dan mobil yang bergantian mengantarmu!”
“ Bahkan sekarang aku mendengar. Mendengar kalau kau akhirnya memilih untuk menikah. Dari mulutmu sendiri.” lanjutnya.
“ Kau tidak lebih dari tetangga-tetangga peng-gosip itu. Picik!”
“ Kau jangan menuding. Kau yang mau menikah. Apa sebenarnya tujuanmu memanggil aku disini?”
“ Memastikan. Memastikan apakah penantianku itu benar.”
“ Kalau kau menunggu. Kau adalah permata yang menuggu. Selalu dilirik tanpa takut terbuang!”
“ Tapi aku. Aku adalah penonton yang menunggu. Hanya bisa melihat dengan harapan kau melirik kehisterisanku “ lanjutnya.
“ Kau selalu membuang wajah mu dipertemuan kita. Tanda yang bagaimana yang kauharapkan. Aku malah tidak melihat benang merah antara cintamu dengan sikapmu. Kau terlalu dingin. Sehingga kutakut kalau cinta ini hanya aku yang miliki, tidak dirimu!”
“ Kau sadar siapa aku! Si miskin yang bodoh. Berlebihan mengekspresikan cinta pada putri adalah sebuah kesalahan besar. Dicemooh dan dihujat itu bisa kudapatkan. Itu dosa!”
“ Dalam cinta tidak ada kasta. Semua di anugrahi itu. Yang membedakan hanya siapa yang berani bertarung untuknya maka dia akan menjadi pemenang dan yang mendiam akan menjadi terluka”
“ Tapi sadar tidak kau bahwa apa yang kau punya membuatku bertambah lemah. Tidak ada yang mendukungku. Diriku, keluarga, sampai kehidupan ini tidak bersahabat dengan cintaku.”
Lalu mereka berdua terduduk dalam diam. Sangat diam. Tidak seberisik kota itu. Kota disisi-sisi mereka.
“ Sudahlah. Semua sudah terjadi. Cinta yang terjadi dalam diri kita berdua itu telah kita aniaya dengan tidak menunjukkannya. Sampai saat memilukan ini memaksa kita untuk menunjukkanya. Besok aku akan menikah dengan laki-laki yang entah apakah sudah tepat. Aku hanya sadar kalau hidup ini bukan mimpi. Andai saja dulu kita dipertemukan dengan keadaan ini mungkin apa yang kita rasakan bisa terekspresikan dan tidak akan seperti ini. Kau bukan satu-satunya yang bersalah,akupun juga terlalu angkuh “
“ Iya. Terima kasih, karena telah menunjukkan bahwa sesungguhnya yang kurindukan itu ada. Hanya saja aku yang tidak punya keberanian. Nyaris 15 tahun aku benar-banar telah memupuk cinta itu tapi sekaligus melukainya karena kubangun dalam hayal. Padahal sebenarnya diluar, tidak sadar itu sebenarnya ada. Hanya saja aku yang terlalu asik dengan mimpiku. Dan ketakutanku. Aku akan melupakan mu.”
“ Aku juga. Kita memang harus belajar melupakan kisah yang tidak pernah terjadi ini”
“ Terima kasih kau mau memenuhi panggilanku . Besok tolong jangan hadir kepestaku dengan cintamu. Karena aku tidak tahu apakah aku akan kuat ” lanjutnya.
***
“ Dua tahun ini semua berjalan seperti janji yang kita buat malam itu, dikafe itu. Tapi kenapa kau buyarkan sekarang.”
“ Apa yang aku buyarkan. Serapuh itukah hingga seperti buih, kau bisa menutupnya dengan satuan waktu?”
“ Lagi-lagi kau tidak membuatku mengerti. Mungkin kau memang mahluk yang diciptakan untuk menyiksaku. Seperti Iblis terhadap Adam”
“ Kau tidak mengerti “
“ Apa yang tidak kumengerti. Kukira sudah jelas. Kita harus lupa “
“ Dua tahun lalu, setelah malam itu. Beberapa menit setelah itu. Aku rasa ada suatu yang besar yang hilang dari hidupku selama puluhan tahun. Dan kusadar itu kau. Suatu kemustahilan membiarkan satu detik waktuku untuk tidak memikirkanmu”
“ Kau..”
“Usst... jangan kau putus penjelasanku!”
“ Dua tahun aku memikirkan dan akhirnya memutuskan dan mencoba membina keputusan itu untuk sekarang” lanjutnya.
“ Apa? Yang seperti sekarang! Tapi kenapa kau pilih dia? Kau tahu dia adik ku”
“ Iya aku tahu. Dan dia adalah satu-satunya peluang ku untuk bisa selalu lebih dekat dengan kau. Tidak mungkinkan kau pergi meninggalkan adikmu dengan keadaan seperti itu, meski dia sekarang telah mempunyai suami”
“ Kau mempermainkannya. Kau memang bangsat. Sedari kecil, ketika kalian sering bersama sabagai sahabat. Dia sering memujamu ketika berbicara dengan ku. Sebagai anak laki-laki yang menyenangkan.”
“ Aku tahu. Dulu pun persahabatan itu untuk lebih dekat dengan kamu”
“ Dia satu-satunya adik perempuanku. Dia lemah. Jadi kalau kau melukainya maka kau akan berhadapan denganku”
“ Anugrah untukku kalau ternyata Tuhan mengirim mu sebagai malaikat mautku. Dan aku tidak rela kalau harus mati terbunuh tapi bukan atas campurtanganmu.”
“ Kau gila..”
“ Mungkin seperti itu pula kegilaan Iblis sehingga terus menggoda Adam. Karena cinta”
*blog ini pernah diterbitkan dalam tiyo-is-bad.blog.friendster.com sekitar tahun 2007 atau 2008
Jumat, 13 Mei 2011
Tunggu sebentar, Dia sedang tersenyum
Aku duduk disamping kirinya, tepat disamping kirinya. Hampir bersentuhan, aku sangat ingin bahu kami bersentuhan, tapi tidak. Masih ada jarak diantara kami.
Dari sini aku bisa menatap wajahnya lebih dekat dari biasanya. Tidak pernah lagi aku bisa menatapnya sedekat dan selama ini. Baru kali ini dan tanpa dia membuang muka atau menunduk. Kali ini dia bereaksi biasa saja kala kutatap. Hampir seperti dulu, seperti ketika kami masih bersama, aku bisa menatapinya melakukan aktifitas dan dia tidak terganggu malah bersemangat. Senang ketika aku mengingat masa-masa itu. Aku rindu.
Tampak jelas wajahnya. Aku bisa menatap garis alisnya yang alami. Aku bisa menatap matanya yang bulat dengan kantung yang kadang berubah berwarna pink ketika dia sedang sedih. Aku bisa menatap titik hitam di pipi kirinya yang selalu indah di tengah pipinya yang putih. Aku bisa menatap hidungnya yang kadang kelihatan besar kadang kecil, hihihiihi selalu lucu (aku tersenyum kecil). Aku bisa melihat bibirnya yang tebal dibagian bawah, berbentuk indah apalagi ketika dia tarik ketika tersenyum, sayang titik hitam di tengah bibir bagian bawahnya itu tidak terlihat dari sini, padahal itu juga kurindukan. Wajah itu memang sangat indah, dan selalu membuatku terdiam ketika menatapinya sendirian.
Aku tidak peduli pada semuanya. Pada keramaian tempat ini. Pada riuhnya suara dan asap rokok yang bercampur. Pada orang yang lalu lalang. Pada pandangannya yang tidak pernah mengarah kepada ku disamping kirinya. Dia terus menatap dua anak, yang sangat kukenal, diatas panggung itu. Seorang anak membaca puisi rayuan pada kematian dan yang lainnya sedang memetik gitar kelasiknya. Mereka tampil dengan background slide foto lama ku yang terus bergantian. Kedua anak itu melakukan untukku, mereka murid yang kehilangan.
Ada sesuatu yang dia tahan ketika menyaksikan performa dua anak itu. Garis wajahnya sesekali menegang ketika namaku disebut oleh murid ku diatas. Matanya seakan sembab ketika perjalanan ku di tanah ini diceritakan dalam puisi itu. Tapi takkala dia berbalik kekanan, ketika dia meatap wajah laki-laki disampingnya, ketika kulihat tangannya digenggam erat, dia melebarkan senyum. Senyum yang dia buat untuk memberi tahu laki-laki itu kalau puisi untuk ku itu tidak berpengaruh apa-apa. Agak sedih tapi aku senang karena dia tersenyum.
Aku masih duduk disampingnya dan masih menatapinya tanpa dia sadari. Tiba-tiba ada yang menepuk bahu kiri ku. Aku berbalik. Sebuah cahaya terang menyilaukan. Aku tidak bisa menatapnya sampai kedalam. “ Sudah waktunya pergi” suara menggema dari dalam cahaya itu. Aku melemah dalam kalimat. “Tunggu sebentar, dia sedang tersenyum”


