Pages

Senin, 15 April 2013

Cerita sebuah gelang (re-Post)

Aku menemukan sebuah gelang. Kutemukan berbaring tenang diatas bangku batu kota yang berada dipersimpangan ini. Warnanya putih, terbuat dari besi putih kupikir. Tidak seperti gelang yang dipakai oleh preman, bentuknya agak kecil. Agak pipih. Tidak kelihatan garang, tapi lebih terang. Ada beberapa debu  melengket, tapi tipis. Mungkin baru saja dijatuhkan disini.
Kasian gelang ini. Dari yang kusentuh, dia agak kedinginan. Dingin malam yang dipancarkan oleh tembok batu dia serap sedalam-dalammnya. Siapa gerangan empu gelang ini? Siapa pemiliknya? Tak mungkin dia sengaja menyia-nyiakan gelang tenang ini. Karena meski kelihatan biasa, dia sangat tenang sehingga bermakna. Pasti pemiliknya sedang kebingungan sekarang. Mencari-cari tambatan hatinya. Danau tenang tempat sampannya berputar-putar mencerna makna kehidupan yang diceritakan matahari dan bulan lewat pantulan cahaya.
Mungkin ini dagangan seorang pedagang kaki lima. Yang menjual beragam asesoris murahan. Asesoris yang dikerjakan disudut-sudut kota. Yang dibuat semirip-miripnya dengan yang dijual di dalam toko asesoris ber-brand negeri barat. Dengan jualan yang  didominasi merek produk-produk olahraga ekstrim. Ini yang dibuat semirip-miripnya. Dengan bahan yang lebih murah tapi belum tentu kekuatannya. Tidak penting sebenarnya permasalahan kekuatan. Toh konsumen dari dagangan pedagang kaki lima adalah orang-orang yang sangat dinamis dengan trend dan mode. Ketika muncul gaya baru dari band terkenal atau asesoris baru yang digunakan oleh pelakon dalam sebuah sinetron kondang, maka para konsumen dari pedagang kaki lima akan merubah arus sesuai dengan mode dari artis pujaannya itu. Dan itu pun harus direspon oleh para produsen barang “ciplakan” sebagai suplayer barang murah.
Pagi-pagi tadi pasti bapak pedagang itu sudah membuka lapaknya. Dia membentangkan selembar karpet pelastik berwarna kusam. Lalu menghamburkan barang dangangannya. Mengaturnya berkelompok. Mulai dari rantai , cincin, ikat rambut sampai pin-pin pun dia sediakan dan dengan harga murah. Setelah itu diapun menyuguhkan senyum pada orang yang berlalu lalang. Dengan teknik marketing yang didapat dengan autodidak, dia menggaet pelanggannya. Tapi saat mentari mulai berdiri  90 derajat dari kulit bumi, sekonyong-konyong saudara-saudara seprofesinya berlari sambil mengangkat barang dagangannya dengan sembarang. PENERTIPAN! Teriak mereka. Lalu dari arah yang sama muncul orang-orang berseragam biru agak tua, memegang pentungan dan menghambur apa saja yang dia anggap mengganggu keindahan kota. Sang pedagang pun melakukan hal yang sama dengan teman-tamannya. Menggulung dengan sembarang karpetnya dan memeluknya lalu kabur. Tak dipedulikanlah beberapa barang yang terjatuh, asal tidak banyak dan bukan tertangkap, karena bakal sulit mengurus untuk keluarnya.
Bisa jadi harga gelang ini tidak seberapa, tapi kalau ada beberapa yang terjatuh, itu akan menjadi suatu yang berharga. Kucoba melongok kesana-sini, siapa tau masih ada yang tercecer. Tapi tidak ada.
Lalu indra penciumanku mengendus sesuatu yang menusuk. Bau yang aneh, tidak bau tapi juga mengganggu. Parfum murahan. Kubalik sana sini tapi tidak ada orang yang melintas. Hanya tadi ada mobil mewah yang berlalu dari arah lorong itu. Lorong yang ujungnya terkenal dengan segala hal yang berbau “syahwat”. Selangkangan.
Hayalku merebak jauh kelorong itu. Jangan-jangan ini milik seorang wanita dari lorong itu. Dari bentuknya gelang ini memang lebih cocok dipakai oleh seorang wanita dan dari gayanya, tentu saja, wanita dari kelas bawah. Dia wanita “pelacur” yang agak senior, atau tepatnya usang. Setengah baya. Kerutan sudah tampak disekitar kulit wajahnya, meski dia alasi dengan bedak yang setebal-tebalnya. Daging dadanya pun begitu, sudah kempis oleh usia. Daging tangan juga keriput di jari-jarinya meneriakkan keusangan. Setengah nyawa dia berusaha untuk menutupi ketuaannya itu. Dari sore dia menghambur beragam alat kosmetik di wajahnya. Dipilih pakaian yang nyaris mencekik seluruh kulit tuanya, agar kelihatan kencang. Tapi tetap saja, dia sudah tua. Hingga dia harus punya strategi ekstra sampai harus banting harga untuk memastikan ada hasil malam ini. Tidak lagi dia harus pilih-pilih pelanggan atau kalah saingnya bertambah parah.
Dia berlari-lari kesini. Kearah bangku ini. Kearah dua orang yang sedang bercumbu disini. Seorang pria berkumis berwajah bangsat dan seorang wanita muda berpakaian seronok. Dia berlari kecil kearah mereka. Sesampainya disini, tanpa membiarkan lelahnya hilang, dia langsung menjambak rambut wanita muda tadi. Sang pria diam, kaget. Wanita muda tadi berteriak kesakitan. WANITA ANJING! MASIH BAU KENCUR SUDAH BERANI! Teriaknya. Wanita muda tadi hanya berteriak kesakitan. Rupanya pria berwajah mesum tadi adalah pelanggan sehari-hari wanita paruh baya ini. Tapi tadi wanita muda itu mencegat si “mas” disini, sebelum masuk kelorong itu. Wanita paru baya geram mendengar berita ini dan kalap. Tak ada lagi kesadaran yang menemaninya dia hanya mengahantam. Wanita muda kehabisan kesabaran, akhirnya membalas mencakar dan menarik-narik. Pertarunganpun semakin sengit ditonton orang-orang. Tapi bagai manapun semangat wanita paru baya itu, dia tetaplah lemah di banding wanita muda itu. Sebuah tinju kecil melayang kewajah wanita paru baya. Pandangannya gelap, dia pun terjatuh kearah jalan. Pria hidung belang tadi dengan segala rasa bersalahnya mencoba menangkap tangannya tapi tak kuat sehingga gelang wanita paru baya lah yang terlepas dan kepalannya terantuk aspal jalanan. Dia pingsan. Begitulah akhir pertarungan dua “kucing” jalanan. Dan wanita paru baya yang harus kalah oleh waktu.
Kasian wanita paru baya itu. Alih-alih pelanggannya berhasil dia rebut, malah luka yang dia terima. Aku menatap lorong itu. Ingin aku merengsek masuk dan mencari berita wanita paru baya itu dan menyerahkan gelangnya. Tapi keberanian itu kecil, aku belum siap dengan predikat yang disandang lorong itu.
Lalu kembali aku menatap gelap sekitar tempat ini. Sangat sepi. Kubiarkan imajinasiku melayang liar untuk meraba empu gelang ini. Aku mulai menghayal untuk pemilik gelang ini. Mulai dari seorang siswi Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama yang memiliki sisa uang jajan karena ada rapat guru sehingga sekolah pulang cepat. Akhirnya dia bisa membeli asesoris seperti milik teman-temannya di pasar kampung dekat sini. Senangnya minta ampun, sampai-sampai dia membuat salah satu belanjaannya tercecer disini. Atau seorang preman pasar yang baru saja menjambret tas seorang ibu-ibu gendut yang lengah ketika belanja. Isi tasnya tidak cukup berharga, hanya beberapa ratus ribu rupiah, beberapa alat kosmetik murahan dan gelang ini. Tapi yang paling tidak berharga adalah gelang ini, dia sudah punya banyak ditangannya bahkan lebih besar, makanya dia campakkan saja di bangku ini. Kosmetik dan tasnya bisalah dia persembahkan untuk wanita “jalang”nya. Apa lagi lembaran ratusan rupiah itu, bisa buat makan dan selebinhya buat mabuk.
Hayalku sampai pada sebuah wajah seorang wanita muda berparas sopan. Dia berkerudung kecil megikuti bentuk kepalanya yang bulat oleh pipinya yang gempal. Dia juga kecil, 140 – 150an centimeter kupikir. Bertubuh agak gendut (tidak terlalu gendut) tapi memiliki senyum manis yang mengangkat sebuah tahi lalat kecil tepat ditengah pipi kanannya lebih mendekat kematanya yang agak sipit.Dia bukan dari kelas yang terlalu bawah. Dia duduk persis ditempatku duduk sekarang. Tampak wajah gelisah diwajahnya. Dia menanti seseorang. Seorang kekasih tampaknya. Seorang kekasih yang beberapa hari lalu, ketika dia mengabarkan akan pergi untuk waktu yang tidak sebentar, marah karena tidak menginginkan perpisahan. Memang tampak dia akan pergi jauh, entah kemana. Sebuah tas ransel sedang dan berwarna hitam usang  duduk tepat di samping kirinya. Kemarin malam sebuah short message service dikirimkan oleh kekasihnya setelah beberapa hari diam. Permintaan untuk bertemu disini sebelum  dia pergi.
Wajahnya makin gelisah. Apakah dia tidak jadi mau datang. Dia melihat jam di tangan kirinya, sudah hampir. Lalu dia memutar-mutar gelang putih di tangan kanannya, berputar mengelilingi pergelangan tangannya. Semakin tidak terarah, dia gelisah. Sampai waktu seharusnya dia pergi, kekasih tak kunjung datang. Setetes air mata mengalir. Dia lepaskan gelangnya dan membaringkannya dibangku ini sebelum meraih tasnya dan pergi.
Tiba-tiba hayal ku berhenti oleh sebuah langkah sendal jepit. Berhenti tepat disampingku. Aku lalu memanatapi orang ini dari sendal sampai kepalanya. Dia menggunakan kaos oblong berlogokan sebuah kampus negeri di kota ini. Dia meggandeng tas ransel. Tampak matanya tidak lepas dariku, tapi nanar, tapi marah (paradoks). Aku jadi risih dengan mata itu. Seperti dia berharap sesuatu miliknya yang kurebut. Tak berapa helaan napas yang dia tarik sangat dalam, dia lalu menghempaskan badannya dan terduduk disampingku. Dia duduk sambil menunduk dan membungkuk. Wajah pucatnya lalu dia sandarkan pada telapak tangannya yang sikutnya bertumpu pada pahanya. “ Dia tidak datang!” gerutunya kecil dibalik kedua telapak tangannya. Aku lalu melihat dengan bingung pada pria ini. Sampai kuperhatikan sebuah gelang ditangan kirinya. Aku lalu menyodorkan tanganku yang menggenggam gelang hilang tadi kearah wajahnya. “ Atau mungkin kamu yang terlambat!” kataku.

Sabtu, 12 Mei 2012

Kalimat di atas daun terakhir

Sajak cinta pamungkas terluka juga
Kering kata dari setiap alur barisnya
Izrail berjinjit-jinjit menghampiri makna
Dan sebentar lagi cinta akan melihat mayatnya di keranda

Oh... betapa malang sang pecinta yang menyembah fisiknya
Lupa sedang menari diatas mimpi yang tak menyentuh ruang
Terus termangu menunggu bintang utara bergerak
Sementara waktu terus melebarkan derita

Aku nanar mentap pohon ku mengering
Kulit batangnya terkelupas seperti kudis
Ranting-rantingnya kurus nestapa tak benadi
Daun-daunnya coklat hangus berguguran mati

Ada helaan nafas mengharap asa
Ketika kehidupan bertumpu pada satu nama
Laksana lubang hitam untuk via Lactea
Menenggelamkan dan melenyapkan

Satu lembar daun menggelantung setengah nafas
Sisi-sisinya mulai ditinggalkan klorofil
Ruas-ruasnya mulai mencoklat
Tapi masih kudapati barisan kata diatas pundaknya, sebuah asa

Kusadari kekuatan harapan
Itu yang membuatku berhenti untuk waktu yang tidak sebentar
Sebuah kalimat yang meminta ku tinggal sebentar lagi saja
Sesuatu yang berteriak pada dunia bahwa akar-akarnya masih menancap tajam

Sebuah kalimat di atas daun terakhir
Bahwa cinta tidak selamanya bersama
Bahwa cinta mungkin berakhir tragis
Bahwa cinta bukan mimpi tapi nyata
Tapi cinta yang ini menunggu sampai nafas terakhir pergi

Senin, 12 September 2011

Catatan Rindu yang gamang

Masih terapung-apung bersama biduk
Di atas danau yang juga tidak pernah jadi milikku itu
Mencari  tepi masa dimana diriku bisa bertemu harapan
Tapi tak kunjung tiba bayang maya bulan kelabu memudar

Kita bersama dalam ruang sempit tak bersisi
Dipisahkan mimpi yang tak pernah punya kesamaan
Sesekali kuketuk dari sisi lain partisi ini
Suaranya terlalu naïf hingga tampak menjijikkan
Kata  berjubah pembelaan sang pengemis
Aku terkubur dalam anekdot diatas panggung pementasan ketoprak

Ada bulir peluh membasahi kening
Habis sudah energi terhisap ruang temaram itu
Sedang lagu terus mengalun datar mengantar kau hilang
Maka lelah mengusikku untuk terasing dari kewarasan yang utuh

Kucoba menyelamatkan diri pada jiwa yang lain
Memberi peran sahabat dalam elegi yang sedang didiktekan ini
Tapi ini dunia nyata yang dimana Tuhan berarti "disini tidak ada yang gratis"
Maka kemiskinan membunuhku untuk kesekiankali

Dimana kau kekasihku dulu?
Yang menggenggam telapak kanan ku dengan penuh rindu
Yang membiarkan ku membelai mu dengan pujian-pujian seluas langit biru
Pergikah kau menghilang dengan sayap ku yang ku berikan untuk mu dulu
Lepas dari sangkar hati yang akhirnya juga diriku
Tapi seperti jiwaku, kemana pun dirimu kau tetap yang terkasih untukku

Dimanakah bintang utara kini?
Masihkan yang kutitipkan mempunyai sinar
Karena tampak semakin meredup dari bawah sini
Aku akan terus menunggu jawaban itu datang
Dan sampai ketika petang pun menghampiri
Dan atau ketika itu tak ada lagi senandung cinta terdengar dari utara
Aku akan terus diatas biduk itu untuk terapung dibawa naungan pohon ini
Dengan cintaku yang tak terkikis masa
Dengan penantianku yang tak kunjung usai

Rabu, 06 Juli 2011

Suara Sumbang si Pengganggu

Aku sepertinya sudah membuatmu sesak
Gelisah dengan keluhkesah ku
Gerah oleh bayang-bayang ku
Garang pada keras kepala ku
Atau kau sudah muak pada kelemahan yang ada

Aku meminta maaf,
Dalam belajar diriku kudapati sekarang
Mencoba menghapus dirimu yang tidak kunjung tiba
Terseok-seok antara keinginan dan keadaan
Mungkin itu memang memuakkan tapi aku terus saja bernafas
 
Malam menyimpan rindu, siang mengejek keterasingan
Dimana akan kutempatkan diriku yang usang
Dengan getaran pada kehausan akan lembut sang bintang
Atau kerinduan untuk menjadi sahabat matahari yang nyalang
Aku tidak tahu apa kah aku juga masih mahluk dari yang agung

Kumohon biarkan orkestra sumbang ini terus mengalun
Bunyi bisik lirih setengah harapan
Tak usah kau memberi banyak tanggapan
Cukup biarkan aku menggerutu dikursi penonton

Karena mungkin sebentar lagi petang
Karena mungkin asa pun akan berpamitan
Saat itu tidak ada lagi bisik si pengganggu
Saat itu kita tenang dari ditempat kita terakhir beradu

Senin, 04 Juli 2011

Bereng-Bereng ( DragonFly)


Emptiness is killing me. Hits my face like the moon crashes the sun…
( Farida Susanty, Dan Hujan Pun Berhenti).

Rabu

Dulu, ketika ada kupu-kupu yang masuk kedalam rumah pada malam hari maka nenek atau tanteku akan bilang kalau dalam beberapa hari ini akan ada tamu yang datang, kedatangan mahluk bersayap itu menjadi penandanya. Aku sebagai anak kecil waktu itu tentu saja percaya, sepeti mitos-mitos lainnya, maka setiap malam ketika ada kupu-kupu terbang bingung di sekeliling lampu di atas plafon aku akan menebak siapa lagi yang akan datang dalam beberapa hari ini. Bahkan ketika aku berharap seseorang untuk datang , maka  ketika kupu-kupu atau serangga lainnya  berkunjung pada malam hari dan berputar-putar di langit-langit ruangan, hal itu akan menambah lega harapan ku itu. Seorang anak kecil memang kadang terlalu lemah untuk tidak bersandar pada hal-hal yang absurd, demi menyenangkan mimpi-mimpinya.

Dan malam ini, ketika aku sedang menikmati malam-malam menjadi pengangguran dengan menonton film di komputer, dengan keadaan ruangan seperti biasa, keadaan gelap, tiba-tiba ketenangan itu dibuyarkan dengan kehadiran seekor capung yang bergerak-gerak liar didepan monitor seperti seorang suku astek  yang sedang kerasukan didepan pemujaan pada dewa matahari, iya, satu-satunya cahaya terang diruangan itu memang hanya monitor ini dan capung itu terus menciuminya seakan mau masuk kedalamnya. Aku tambah tenggelam dalam diam ketika hal itu terjadi, nalar rasional ku yang sudah membuang hal-hal yang beraroma mitos mengatakan kalau capung ini tidak sengaja tersesat kedalam kamar ku ini dan itu hal yang naluriah kalau serangga sangat tertarik pada sumber cahaya. Tapi ada rasa yang seakan terhibur dengan kedatangan mahluk ini, sebuah rasa yang lalu memebesarkan sebuah harapan, “Hmmmm….siapa yang akan datang? Apa untukku, karena serangga ini masuk kekamar ku?” rasa itu terus bertanya. Iya, rasa itu adalah kesepian.

Sabtu

Untuk beberapa detik, tubuh ini membeku, terasa keram mulai dari ujung kaki sampai ubun-ubun bahkan diyun-ayun kan oleh bentor (becak motor) ini, bibir ini mengatup sedang mata terus terbuka bergetar menatapi pemandangan yang tidak lebih sepuluh meter itu dan mendekat , “ Kaukah itu?” batin ku bertanya yakin karena saya tau kalau mata normal itu bisa meliat jelas lebih jauh dari sepuluh meter dan saya yakin mata saya masih normal. Sampai akhirnya lebih dekat dan saya tau kalau itu bukan kau, kanya mirip dari kejauhan saja, mirip gaya berpakaianannya, mirip warna yang sering kau pakai, postur tubuhnya juga hampir sama seperti kalau kau duduk, wajahnya juga putih dengan mata yang agak lebar, sayang itu bukan kau. Dan ketika semua jelas, paru-paruku pun akhirnya mendapat isin untuk bekerja lagi membuat nafas yang teratur. Aku berbalik pada adikku yang duduk disamping ku, “ Saya kira kakak…” dia juga ternyata tertipu, “ Iya saya juga” kataku sembari mengusap setitik keringat yang sempat mengalir dari tubuh yang dingin ini.
         
            Hal yang aneh memang, kenapa saya harus kaget kalau pun benar itu kau yang sedang menuju kearah rumah ku. Ini bukan pertama kali saya bertemu kau setelah kita tidak bersama lagi. Saya masih bisa melihat wajah mu atau mengetahui beberapa aktifitas dan suasana hatimu melalui jejaring sosial. Bahkan beberapa minggu lalu saya bahkan menjenguk kau dirumah sakit. Lalu apa yang harus saya kagetkan kan? Hufftttt….. Saya tahu kalau pertemuan dengan kau itu mungkin dibeberapa momen adalah hal yang biasa tampakannya, tapi sebuah kesadaran bahwa suatu saat ketika kau datang lagi kerumah ini, pasti dengan membawa suatu hal yang besar meski aku tidak tau itu apa. Dan sampai sekarang saya belum yakin kalau saya siap menghadapi itu. Itulah yang membuat tubuh ini beku, kebingungan dalam kegembiraan VS ketakutan.

You’re so hypnotizing, Could you be the devi, Could you be an angel
( Katy Perry, E.T. )
           
          Manusia harusnya berbahagia ketika bertemu dengan yang dia mimpikan dan usahakan. Manusia selalu mau untuk menggapai yang diinginkannya. Tapi saya sendiri mulai tidak yakin dengan pendapat itu. Hal yang baik dan menggembirakan selalu pergi dan sangat cepat sedangkan hal yang yang menyakitkan selalu terasa lama untuk terhapus. Kita bisa bertemu dengan apa yang kita ingin kan, orang-orang atau hal lain, lalu kita kan bergembira dengannya. Tertawa dan menangis, asal bersamanya tidaklah mengapa, kita akan mencurahkan pikiran dan segala usaha kita untuk terus hidup dengan kegembiraan itu, sampai waktu tidak menjadi batasan lagi, dan kita tidak lagi merasakan waktu itu yang terus berjalan. Tapi ketika orang itu atau hal itu pergi maka kita akan terjerembab mati, perhatian kita hanya untuk membunuh waktu dan agar waktu itu cepat berjalan untuk segera bertemu ujung semuanya dan menghentikan penderitaan itu. Meskipun akhirnya waktu berjalan lebih lambat.

           Sekarang duniaku kupersempit. Duniaku sekarang terdiri dari seorang ibu, seorang kakak perempuan, seorang adik perempuan, seorang tante, seorang kemenakan laki-laki, seorang kemenakan perempuan, beberapa instrumen untuk melengkapi fenomena yang datang lau pergi silih berganti dan sebuah cerita yang digantung dilangit sana. Dan seperti ketika melihat capung itu berkunjung kekamarku pada malam hari, akan ku tanggapi semua harapan tidak dengan hanya sebuah harapan yang utopia lagi meski tetap menikmatinya, karena hidup yang ada kini seperti bibir pantai yang menerima datang dan perginya ombak, menerima apa yang dibawa oleh buih (entah dibawa pergi kembali atau disimpan saja), kedinginan pada malam hari dan kepanasan pada siang bolong, tapi yang pasti selalu indah pada pagi dan sore hari. Itulah setitik harapan yang tertinggal yaitu titik di ujung kiri dan kanan bibir ketika tersenyum. Senyum yang mengantarkan kita untuk tetap merasakan hidup meski dunia sudah meninggalkan kita karena sudah muak dengan keluhan atas penderitaan yang kita buat sendiri. Iya, senyum itu juga bisa diperuntukkan untuk menghibur diri sendiri.

Lalu seekor capung terbang bebas meninggalkan tanda-tanda yang dibawanya, dan keresahan tergambar gamang dalam coretan ini.

Tetap tersenyum : )

Sabtu, 02 Juli 2011

CANDU lagi ( bukan lanjutan )

Tok!!...Tok!!... “Assalamu alaikum kak”
“.......”
“Mengganggu yah?”
“huffttt.....”
“.......”
“Masuk”
“Hmmmm...terima kasih”
“Uhuk..hmmhmmm.....ada apa?”
“M...ee...mmm......kak sebelumnya maaf kalo saya lancang”
“......”
“Huffttt...saya yakin kakak sudah tau berita itu, tapi saya pikir baiknya saya yang memberitahu sendiri”
“......”
“Kak. Saya akan menikah, kakak tahu dengan siapa kan? Maaf! Sekali lagi maaf”
“M.......”
“Sekalian saya bawakan undangannya untuk kakak”
“Huffft..... Apa yang saya bilang beberapa tahun lalu belum jelas?”
“Mmmmm....Tapi...”
“Jangan ada tetapi, sudah saya bilang jangan undang saya..”
“Huffttt.... Saya mau kakak hadir, karena biar bagai mana saya tidak mau memutus hubungan persaudaraan senior junior”
“Itu tidak akan luntur, saya pikir kau mengerti saya dan alasan saya tidak perlu hadir dipesta itu”
“Iya saya mengerti, kak saya minta maaf sebesar-besarnya”
“Selalu saya bilang kalau saya sudah memaafkan kau sebelum kau melakukan kesalahan itu. Jadi jangan khawatir”
“Mmmmm”
“Tetap tersenyum”
“Hee.... mmm kapan kakak menyusul?”
“Menyusul apa?”
“Heeeee menyusul mencari calon dan menikah? Hehehe maaf”
“......”
“Kak...maaf, Cuma bertanya. Kan itu baik. Menikah itu menyempurnakan ibadah”
“Kalau dia menyempurnakan ibadah pasti saya tidak diposisikan begini”
“..... Saya salah kak atas semua ini”
“Bukan kau atau saya, tapi keadaan yang membuat semua menjadi sulit”
“Kenapa sulit?”
“Iya sulit sekali”
“Iya, Sulitnya kenapa?”
“Hufftttt... Kau datang pada saat saya sudah belasan tahun tidak mempunyai pasangan hati, saya sudah terbiasa kesepian saat itu. Tapi kau datang dan saya membiarkan kau menghancurkan pertahanan itu”
“..... Kak”
“ Celakanya saat saya mulai nyaman dengan kau, kita harus berpisah. Dan ternyata begitu lama saya menyendiri itu tidak seberat beberapa bulan saya harus melupakan mu. Tidak sangka semua proses itu membuat semakin parah. Sekarang saya takut”
“Takut?”
“Iya saya takut. Saya mungkin bisa menghapus kau dari persaan ku. Tapi tidak sengaja saya juga menanam ketakutan, paranoid”
“Ketakutan macam apa kak?”
“Saya berfikir bahwa kau saja yang sudah sangat mengenal saya tanpa tersisa rahasia dari saya dapat melakukan itu pada saya, sadis menurut saya. Apa lagi orang yang belum saya kenal”
“Kak! tidak boleh menjustifikasi seperti itu. Kakak tidak akan tau kalau tidak mencoba membuka diri, seperti waktu terhadap saya, kakak tidak mungkin mengenal orang lain tanpa membiarkannya masuk dan memperkenalkan diri”
“Entahlah, tapi saya terlanjur takut dengan kaum mu”
“Kak coba lagi...”
“Huffftttttt...... Sudahlah, biar saya yang menentukan itu semua. Kamu pulang saja”
“Hufftttt....... Saya hanya mau yang terbaik tuk kakak. Saya yakin itu ada. Sekali lagi maaf kak. Saya pamit”
“Iya, bawa juga undangan mu, maaf saya tidak bisa hadir. Harap maklum”
“Huffttt... Iya saya maklum. Assalmu Alaikum”
“.........”
***
“Dra, jangan jauh jauh yah! Awas hilang sekitar sini saja liatnya. Ibu mau ketempat jual alat dapur dulu”
“Siap bos, Cuma ditempat jual kamera kok”
“Daimana?”
“Itu, disana yang ruangannya biru”
“Yang mana?”
“Itu yang kelihatan dari sini loh. Yang ada orang berdiri itu loh”
“Yang ma.... Astaga itu...”
“Itu siapa bu? Eh...tunggu bu, main tinggalin aja”
-------------------
“Kak...”
“Eh... Kamu, Sama siapa?”
“Ini sama anak saya. Kenalkan Jendra. Dra ini kenalkan kakak senior ibu dikampus dulu”
“........”
“Sama siapa kak?”
“Hehehe...sendiri”
“Oooo istrinya mana”
“Hehe.... tahun depan baru 11 tahun dari hari itu. Jadi, seperti yang dijanjikan, tahun depan mungkin saya akan mengenalkan kalau saya sudah ketemu yang kau tanyakan”
“........”
“Saya duluan yah. Eh anak kamu gagah”
“Huffttt... Iya, makasih kak”




CANDU*

“ Kau terlalu jauh meninggalkan umurmu ”
“ Ya! Mungkin benar. Tapi apa kau sadar kalau kau  ternyata telah jauh ditinggalkan umurmu ”
“ Aku menunggu! Sampai aku lelah “lanjutnya satelah menunduk berapa lama.
“ Aku tidak melihat itu “
“ Memang kau melihat?“
“ Iya aku melihat! Aku melihat motor dan mobil yang bergantian mengantarmu!”
“ Bahkan sekarang aku mendengar. Mendengar kalau kau akhirnya memilih untuk menikah. Dari mulutmu sendiri.” lanjutnya.
“ Kau tidak lebih dari tetangga-tetangga peng-gosip itu. Picik!”
“ Kau jangan menuding. Kau yang mau menikah. Apa sebenarnya tujuanmu memanggil aku disini?”
“ Memastikan. Memastikan apakah penantianku itu benar.”
“ Kalau kau menunggu. Kau adalah permata yang menuggu. Selalu dilirik tanpa takut terbuang!”
“ Tapi aku. Aku adalah penonton yang menunggu. Hanya bisa melihat dengan harapan kau melirik kehisterisanku “ lanjutnya.
“ Kau selalu membuang wajah mu dipertemuan kita. Tanda yang bagaimana yang kauharapkan. Aku malah tidak melihat benang merah antara cintamu dengan sikapmu. Kau terlalu dingin. Sehingga kutakut kalau cinta ini hanya aku yang miliki, tidak dirimu!”
 “ Kau sadar siapa aku! Si miskin yang bodoh. Berlebihan mengekspresikan cinta pada putri adalah sebuah kesalahan besar. Dicemooh dan dihujat itu bisa kudapatkan. Itu dosa!”
“ Dalam cinta tidak ada kasta. Semua di anugrahi itu. Yang membedakan hanya siapa yang berani bertarung untuknya maka dia akan menjadi pemenang dan yang mendiam akan menjadi terluka”
“ Tapi sadar tidak kau bahwa apa yang kau punya membuatku bertambah lemah. Tidak ada yang mendukungku. Diriku, keluarga, sampai kehidupan ini tidak bersahabat dengan cintaku.”
Lalu mereka berdua terduduk dalam diam. Sangat diam. Tidak seberisik kota itu. Kota disisi-sisi mereka.
“ Sudahlah. Semua sudah terjadi. Cinta yang terjadi dalam diri kita berdua itu telah kita aniaya dengan tidak menunjukkannya. Sampai saat memilukan ini memaksa kita untuk menunjukkanya. Besok aku akan menikah dengan laki-laki yang entah apakah sudah tepat. Aku hanya sadar kalau hidup ini bukan mimpi. Andai saja dulu kita dipertemukan dengan keadaan ini mungkin apa yang kita rasakan bisa terekspresikan  dan tidak akan seperti ini. Kau bukan satu-satunya yang bersalah,akupun juga terlalu angkuh “
“ Iya. Terima kasih, karena telah menunjukkan bahwa sesungguhnya yang kurindukan itu ada. Hanya saja aku yang tidak punya keberanian. Nyaris 15 tahun aku benar-banar telah memupuk cinta itu tapi sekaligus melukainya karena kubangun dalam hayal. Padahal sebenarnya diluar, tidak sadar itu sebenarnya ada. Hanya saja aku yang terlalu asik dengan mimpiku. Dan ketakutanku. Aku akan melupakan mu.”
“ Aku juga. Kita memang harus belajar melupakan kisah yang tidak pernah terjadi ini”
“ Terima kasih kau mau memenuhi panggilanku . Besok tolong jangan hadir kepestaku dengan cintamu. Karena aku tidak tahu apakah aku akan kuat ” lanjutnya.
***
“ Dua tahun ini semua berjalan seperti janji yang kita buat malam itu, dikafe itu. Tapi kenapa kau buyarkan sekarang.”
“ Apa yang aku buyarkan. Serapuh itukah hingga seperti buih, kau bisa menutupnya dengan satuan waktu?”
“ Lagi-lagi kau tidak membuatku mengerti. Mungkin kau memang mahluk yang diciptakan untuk menyiksaku. Seperti Iblis terhadap Adam”
“ Kau tidak mengerti “
“ Apa yang tidak kumengerti. Kukira sudah jelas. Kita harus lupa “
“ Dua tahun lalu, setelah malam itu. Beberapa menit setelah itu. Aku rasa ada suatu yang besar yang hilang dari hidupku selama puluhan tahun. Dan kusadar itu kau. Suatu kemustahilan membiarkan satu detik waktuku untuk tidak memikirkanmu”
“ Kau..”
“Usst... jangan kau putus penjelasanku!”
“ Dua tahun aku memikirkan dan akhirnya memutuskan dan mencoba membina keputusan itu untuk sekarang” lanjutnya.
“ Apa? Yang seperti sekarang! Tapi kenapa kau pilih dia? Kau tahu dia adik ku”
“ Iya aku tahu. Dan dia adalah satu-satunya peluang ku untuk bisa selalu lebih dekat dengan kau. Tidak mungkinkan kau pergi meninggalkan adikmu dengan keadaan seperti itu, meski dia sekarang telah mempunyai suami”
“ Kau mempermainkannya. Kau memang bangsat. Sedari kecil, ketika kalian sering bersama sabagai sahabat. Dia sering memujamu ketika berbicara dengan ku. Sebagai anak laki-laki yang menyenangkan.”
“ Aku tahu. Dulu pun persahabatan itu untuk lebih dekat dengan kamu”
“ Dia satu-satunya adik perempuanku. Dia lemah. Jadi kalau kau melukainya maka kau akan berhadapan denganku”
“ Anugrah untukku kalau ternyata Tuhan mengirim mu sebagai malaikat mautku. Dan aku tidak rela kalau harus mati terbunuh tapi bukan atas campurtanganmu.”
“ Kau gila..”
“ Mungkin seperti itu pula kegilaan Iblis sehingga terus menggoda Adam. Karena cinta”



*blog ini pernah diterbitkan dalam tiyo-is-bad.blog.friendster.com sekitar tahun 2007 atau 2008
 
Copyright (c) 2010 anne nakke. Design by WPThemes Expert
Themes By Buy My Themes And Cheap Conveyancing.